Islam dan Indonesia

Juli 2014 masyarakat Indonesia telah melakukan pemilihan capres dan cawapres yang bertepatan di bulan Ramadhan. Hanya ada dua kandidat yang mengajukan ataupun diajukan untuk menjadi calon presiden dan wakil presiden Indonesia periode 2014-2019. Pemilu kali ini sangat menegangkan, hingga kini Agustus 2014 story dari pemilu ini belum berakhir, ada saksi-saksi dari salah satu calon kandidat yang tidak terpilih mengemukakan tindak kecurangan secara tersirat dari para pendukung calon lain. Jujur saja, saya merupakan para pendukung calon yang kalah itu, tapi menurut saya tindak kecurangan di Indonesia ini memang dibilang sudah seperti budaya.

Hal kecil seperti untuk masuk pegawai negeri saja mereka sering menggunakkan tindak kecurangan, padahal Indonesia merupakan negara mayoritas islam dan bahkan penduduk islam terbanyak di dunia (Indonesia merupakan negara ke-empat yang mempunyai penduduk terbanyak di Indonesia, penduduk islam di Indonesia mencapai lebih dari 90%) dan islam jelas melarang kecurangan!! 

Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang, (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, Dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi. (Al Muthaffifin: 1-3). 
  

Meskipun sudah ada larangan tegas tentang itu, budaya kecurangan di Indonesia tidak dapat dihindari. Dari kecil para murid sudah diajarkan menyontek oleh ibu gurunya, dampaknya terjadi ketika murid tersebut beranjak dewasa. 

Kembali lagi ke topik sebelumnya, alasan saya memilih calon yang kalah karena saya memiliki saksi terpercaya yaitu kakak laki-laki saya sendiri. Ketika tahun 1998 dia menjadi aktivis di UI Kedokteran Salemba, dia menceritakan kebenaran itu kepada saya. Tapi, sebenarnya bukan itu inti dari tulisan ini, saya hanya ingin mengatakan mengapa negara islam seperti ini? Saya yakin ada pihak ketiga yang membuatnya seperti ini, islam jauh dari pemikiran modern. Islam lebih ingin menggunakan jalan mudah yang tentu saja jalan instan itu salah. 

Yang lebih terpenting adalah bagaimana Indonesia menghadapi perang pemikiran ini, negara ini bebas tapi bukan berarti para masyarakat mendapatkan informasi tanpa dicerna. Miris sekali seluruh berita di TV di dominasi oleh berita sidang tentang saksi-saksi, menurut saya jika Presiden itu sudah terpilih, ya terima saja. Karena tugas kami di bumi ini menjadi khalifah di dunia (2:30), tinggal bagaimana dari diri kita untuk mengubah diri menjadi lebih baik, saling menjaga persatuan dan kesatuan persaudaraan. Seperti saudara kita yang di Gaza, buatlah aktivitas yang berbobot yang dapat membuat para haters iri melihat persaudaraan kami, tidak perlu bersilat lidah atau meluncurkan senjata. Karena hal itu akan sia-sia seperti orang-orang yang memprotes dihadapan kedutaan, pikirkanlah tindakan yang cerdas mengetahui dampak baik yang lebih mendominasi dari pada dampak buruknya.

Sebagai mahasiswa yang dilakukan adalah belajar dengan giat (dan tidak usah menyontek) dan jadilah mahasiswa yang respect peduli terhadap lingkungan sekitarnya. So, Welcome Asean Economics Community yang akan menjadi pertempuran baru Indonesia. Nasib Indonesia terbesar ada pada masyarakatnya, bukan Presidennya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

The Reason Why You Should Go To Togean Island

My official dream :'''')

Tahun Baru, Resolusi Baru?