Miris -__________-
Beberapa hari yang lalu, aku melamar pekerjaan tambahan di suatu cafe yang terbilang populer dan tempatnya aku akui sangat bagus. itu terjadi ketika aku mendengar cafe itu sedang membuka lowongan pekerjaan khusus para mahasiswa yang ingin part time. good news itu membuat aku dan teman saya seketika langsung menghubungi contact person cafe itu. tapi, jadwal yang di sediakan untuk mengisi pekerjaan itu tidak tepat dengan jadwal aku dan teman saya.
akhirnya kami, berniat untuk tetap menunggu. beberapa minggu kemudian, orang yang dari cafe itu menghubungi kami, tepatnya melalui ponselku. katanya, "di tempat kami akan ada acara di hari minggu. mohon bantu kami^^" . seketika hati kami langsung senang, dan dengan penuh keyakinan berkata "tentu saja, kami siap".
H-3 aku menghubungi orang itu lagi. "apakah kita akan jadi bekerja di hari minggu nanti?" tanyaku langsung memulai percakapan. "oh, masih mau?" dia berbalik bertanya. di dalam hatiku, 'apa-apaan ini?' .
setengah jam kemudian orang itu membalas, karena kami berkomunikasi menggunakan fasilitas chat yang ada di ponsel. "ayu pake jilbab ya?" seketika di bertanya lagi. seketika hatiku langsung kacau. 'apa-apaan ini? pertanyaan apa?' di dalam hatiku.
"iya" balasku singkat. "oh, gak bisa. maaf ya ayu."
setelah kejadian itu, aku merasa miris dengan keadaan Indonesia yang katanya negara yang islamnya terbanyak di dunia.
kemudian, aku menghubungi temanku yang ada di London.
"hey, apa di London ada lapangan kerja yang menolak wanita berjilbab?"
"ngak ada. kalo berkemampuan ngak peduli berjilbab atau ngak, ya di terimalah. yang penting kredibilitasnya. cuman orang-orang 'stupid' yang menolak cuman gara-gara jilbab, selama gak di klub aja".
"kalo cafe?"
"ngaklah, aku juga dulu kerja di cafe."
So, kenapa di London tidak mempersoalkan tentang itu?
apa pemuda muslim akan berhasil menjadi agen perubahan?
Komentar
Posting Komentar